Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Melirik Potensi Limbah Daun Pisang Menjadi Carbon Aktif

 


Ternyata limbah daun pisang tidak hanya bisa diolah menjadi kompos, namun menjadi produk bernilai tambah. Salah satunya menjadi carbon aktif.

Menurut Dr. Dewi Sartika, S.Si, M.Sc, peneliti di Universitas PGRI Banyuwangi, penting memnafaatkan limbah biomassa daun Pisan kering menjadi karbon aktif yang memiliki potensi fisik maupun kimia sehingga dapat menjadi nanokatalis. Muatan positif yang tinggi pada ACBL memperkuat magnet Fe3O4 medan magnet Fe3O4 dalam memecah molekul H2O.

Hal ini dihasilkan dari sinergi Fe3O4 dengan graphene oxide dalam ACBL, yang meningkatkan medan magnet sistem karena Fe3O4 sangat menarik ion OH dalam H2O. Ukuran mesh ACBL yang bervariasi dalam Fe3O4 sebagai medan magnet internal menghasilkan volume produksi hydrogen.

Untuk menghasilkan carbon aktif, jelas Dewi, maka daun pisang kering dapat direndam denganKOH 50% selama 12 jam, pengeringan; suhu ruang, pencucian dengan HCl , pH 7. Adapun pemanfaatannya untuk energy, sarana penyimpanan dan aplikasi biotik untuk perikanan atau penyediaan air bersih.

 

Trik Menekan Carbon dengan Eco Enzyme

 https://www.vanguardrenewables.com/_ipx/w_3840,q_75/https%3A%2F%2Fwww.datocms-assets.com%2F97698%2F1712773428-shutterstock_1056730958.jpg%3Ffit%3Dclamp?url=https%3A%2F%2Fwww.datocms-assets.com%2F97698%2F1712773428-shutterstock_1056730958.jpg%3Ffit%3Dclamp&w=3840&q=75

Ternyata dengan melakukan fermentasi sampah organik dapat menghasilkan cairan multi manfaat yang disebut eco enzyme. Sampah dapur atau sisa tanaman tidak hanya bisa diolah menjadi pupuk organik. Namun, juga ditingkatkan manfaatnya menjadi eco enzyme. Menurut Gusniarni, S.E., M.Si., eco enzyme adalah cairan organik hasil fermentasi limbah organik segar (seperti kulit buah dan sayuran), gula merah/molase, dan air. Larutan ini dihasilkan dari proses fermentasi yang berlangsung selama 90–100 hari.

Hebatnya larutan ini bisa diubah menjadi berbagai produk seperti desinfektan, pupuk, bahan pakan dan penjernih air. Menurut Gusniarni, S.E., M.Si. di Indonesia, produksi sampah organik mencapai 31,9 juta ton pada 2024, dan banyak yang belum dikelola dengan baik.

Pengolahan eco enzyme dapat membantu mengurangi jumlah limbah, mengurangi emisi gas rumah kaca, seperti metana (CH₄) yang 23 kali lebih berbahaya dibanding CO₂, serta menjadi solusi ekonomi sirkular yang menguntungkan.

Membuat Eksistem Mini dengan Topless

 https://temonggo.com/wp-content/uploads/2021/01/tanaman-aquarium-mini.jpg.webp

Salah satu cara membuat ekosistem mini adalah dengan memanfaatkan topless plastic yang bisa dibeli atau bekas kemasan makanan. Lalu nanti diisi media tanaman aquascape untuk bagian bawahnya.

Lalu langkah selanjutnya adalah dengan memasukkan tanaman seperti sirih gading atau juga Tanaman ivy, lidah buayam spider plant, bunga lili. Namun kami lebih merekomendasikan sirih gading karena harganya murah dan mudah diperoleh.

Kemudian pada bagian bawahnya kita bisa mencelupkan beberapa jenis tanaman air yang low CO2 seperti Amazon sword atau Echinodorus amazonicus. Untuk berapa banyak tentu disesuaikan dengan ukuran wadah jangan terlihat terlalu ramai sehingga nantinya saling menghambat satu sama lain.

Lalu kemudian diisi ikan, pilihannya adalah yang tahan terhadap kondisi rendah O2. Seperti cupang, ikan spat hias. Topless ini bisa diletakkan di tempat yang teduh namun masih terjangkau sinar matahari namun tidak langsung, misalnya diteras.

Dengan berjelannya waktu maka tanaman air akan berfungsi menyerap amoniak dari kotoran ikan dan sisa makanan, lalu menyumbang O2 bagi ikan. Sementara air jernih topless akan mengundang nyamuk untuk meletakkan telur yang menjadi sumber makanan. Lalu juga akan muncul mikroorganisme yang bertugas mengurai sampah organik untuk menjadi bahan makanan bagi tanaman.

Cara Termudah Memulai Green Living

 https://leafyplace.com/wp-content/uploads/2020/06/plant-in-a-water-bottle.jpg

Ketika melihat pekarangan yang sudah hijau dan rimbung banyak orang yang ragu untuk memulai green living. Pasalnya itu dianggap proses yang perlu waktu lama dan perlu ketekunan. Tentu saja, hanya saja kita bisa memulai dari langkah-langkah sederhana.

Setidaknya ada beberapa cara mudah untuk memulai green living di kediaman kita, antara lain sebagai berikut

Pertama, memanfaatkan wadah yang ada entah itu kaleng, ember botol bekas sebagai tempat menanam.  Cara termudah untuk mendapatkan tanaman adalah dengan menanam apa saja yang ada di dapur. Seperti sisa akar bayam atau kangkong, biji cabe atau tomat. Tanam setiap biji atau bagian tanaman yang ada di dapur kita.

Kedua, tidak ada salahnya membeli tanaman berharga murah lalu tanam di media yang ada atau dipot. Lalu setelah muncul cabang atau tunas lakukan perbanyakan agar menambah jumlah populasi tanaman.

Ketiga, jika space tidak tersedia tanaman tersebut dapat digantung atau dibuatkan di rak yang bertingkat sehingga jumlah tanaman yang ada di rumah kita cukup banyak. Entah kenapa semakin banyak tanaman yang ada di rumah kita entah itu yang mahal atau asal dari biji akan selalu menciptakan suasana yang asri.