GAPK Kalimantan Tengah Dukung Penyelenggaraan Kegiatan Konservasi Pantai

 

Pengelolaan sampah yang bijak dan berkelanjutan menjadi tantangan besar bagi masyarakat modern. Sebagai bentuk kepedulian terhadap isu lingkungan, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Kalimantan Tengah memberikan kontribusi nyata dalam mendukung keberhasilan Zero Waste Week 2025 yang diselenggarakan oleh Carlo Institute. Sebuah inisiatif yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran serta aksi nyata dalam pengelolaan sampah.

Kegiatan Zero Waste Week 2025, yang berlangsung dari 7 Maret hingga 23 Maret 2025, menghadirkan berbagai program edukatif dan aksi langsung yang berdampak pada masyarakat dan lingkungan. Dengan dukungan penuh dari GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, acara ini sukses menjangkau lebih dari 600 peserta dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari mahasiswa, pengusaha, pegiat lingkungan, hingga petani dan ibu rumah tangga.

Edukasi Melalui Webinar Nasional

Sebagai bagian dari kampanye pengelolaan sampah yang lebih baik, enam webinar nasional diselenggarakan untuk memberikan wawasan dan solusi inovatif bagi masyarakat. Webinar ini menghadirkan para ahli di bidang lingkungan dan pengelolaan limbah, dengan topik utama sebagai berikut:

  1. Cara Bijak Mengelola Sampah dari Sumbernya
  2. Mengubah Sampah Organik Menjadi Pupuk yang Bermanfaat
  3. Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit Menjadi Produk Bermanfaat
  4. Pengelolaan Minyak Jelantah Menjadi Biodiesel
  5. Menjadikan Daur Ulang Sampah Plastik sebagai Bisnis yang Menarik
  6. Inovasi Pengolahan Sampah Organik dengan Metode Biopori

Keenam webinar ini bertujuan memberikan edukasi dan inspirasi bagi masyarakat agar lebih peduli dalam mengelola sampah dengan cara yang lebih produktif dan bernilai ekonomi.

Aksi Nyata untuk Lingkungan

Selain edukasi, Zero Waste Week 2025 kali ini juga melaksanakan berbagai aksi nyata yang berdampak langsung pada lingkungan.

Bersih-bersih Pantai Jimbaran, Bali


Dengan dukungan dari GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, lebih dari 20 relawan turut serta dalam kegiatan bersih-bersih pantai. Sampah yang dikumpulkan oleh para relawan dapat ditukarkan dengan bingkisan sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka dalam menjaga kebersihan lingkungan pesisir.

Edukasi Agen Pengolahan Sampah

Selain aksi bersih pantai, diadakan juga pelatihan pembuatan kursi ecobrick dari sampah plastik, yang dihasilkan setelah kegiatan cleanup. Edukasi ini diberikan kepada para pedagang di sekitar pantai, karena salah satu sumber utama sampah di pesisir berasal dari aktivitas perdagangan.

Penanaman Bibit Bakau di Pantai Oesapa, Kupang

Sebagai penutup rangkaian acara, sebanyak 30 bibit bakau ditanam di Pantai Oesapa, Nusa Tenggara Timur. Aksi ini bertujuan untuk mengurangi abrasi pantai serta memperkuat ekosistem pesisir yang sangat rentan terhadap perubahan lingkungan.

GAPKI Cabang Kalimantan Tengah: Mendukung Keberlanjutan

Dukungan dari GAPKI Cabang Kalimantan Tengah dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa dunia industri dapat berperan aktif dalam menciptakan solusi nyata bagi lingkungan. Keberhasilan Zero Waste Week 2025 tidak hanya berkat partisipasi masyarakat, tetapi juga karena adanya kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk sektor industri yang memiliki kepedulian tinggi terhadap keberlanjutan.

"Saya mewakili Carlo Institute mengucapkan apresiasi setinggi-tingginya kepada GAPKI Cabang Kalimantan Tengah atas kontribusi luar biasa dalam mendukung Zero Waste Week 2025. Kolaborasi ini membuktikan bahwa dunia industri dan masyarakat dapat bersinergi dalam mewujudkan lingkungan yang lebih baik," ujar Komang Nartini, Sekretaris Holding Callistha Foundation dan Carlo Institute.

Mendorong Masyarakat untuk Berperan Aktif

Keberhasilan Zero Waste Week 2025 menjadi inspirasi bagi banyak pihak untuk semakin peduli terhadap lingkungan. Dengan praktik pengelolaan sampah yang lebih bijak, masyarakat dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Diharapkan, kerja sama seperti ini dapat terus berlanjut di masa mendatang, sehingga semakin banyak inisiatif yang mendukung keberlanjutan lingkungan dapat diwujudkan

Carlo Institute Melakukan Penanaman Bakau di Pantai Oesapa

Dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan pesisir, Carlo Institute menggelar kegiatan penanaman bakau pada Minggu, 2 Maret 2025, di Pantai Oesapa, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam melindungi ekosistem pesisir, mencegah abrasi, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian alam.

Mengapa Penanaman Bakau Itu Penting?

Bakau memiliki peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Selain menjadi benteng alami yang melindungi pantai dari abrasi dan gelombang tinggi, hutan bakau juga berfungsi sebagai habitat bagi berbagai biota laut serta membantu menyerap karbon, sehingga berkontribusi dalam mengurangi dampak perubahan iklim.

Dalam kegiatan ini yang dilakukan oleh salah satu tim carlo dengan penuh semangat menanam bibit bakau di area pesisir yang membutuhkan rehabilitasi. Penanaman bakau tidak hanya berfungsi sebagai benteng alami terhadap abrasi, tetapi juga menjadi habitat penting bagi berbagai spesies laut dan darat.

Aksi penanaman bakau ini bukan hanya sekadar kegiatan sehari, tetapi merupakan bagian dari komitmen jangka panjang Carlo Institute dalam menjaga lingkungan dan melestarikan keanekaragaman hayati pesisir. Dengan inisiatif ini, diharapkan lebih banyak pihak yang tergerak untuk turut serta dalam aksi nyata.

Melirik Potensi Limbah Daun Pisang Menjadi Carbon Aktif

 


Ternyata limbah daun pisang tidak hanya bisa diolah menjadi kompos, namun menjadi produk bernilai tambah. Salah satunya menjadi carbon aktif.

Menurut Dr. Dewi Sartika, S.Si, M.Sc, peneliti di Universitas PGRI Banyuwangi, penting memnafaatkan limbah biomassa daun Pisan kering menjadi karbon aktif yang memiliki potensi fisik maupun kimia sehingga dapat menjadi nanokatalis. Muatan positif yang tinggi pada ACBL memperkuat magnet Fe3O4 medan magnet Fe3O4 dalam memecah molekul H2O.

Hal ini dihasilkan dari sinergi Fe3O4 dengan graphene oxide dalam ACBL, yang meningkatkan medan magnet sistem karena Fe3O4 sangat menarik ion OH dalam H2O. Ukuran mesh ACBL yang bervariasi dalam Fe3O4 sebagai medan magnet internal menghasilkan volume produksi hydrogen.

Untuk menghasilkan carbon aktif, jelas Dewi, maka daun pisang kering dapat direndam denganKOH 50% selama 12 jam, pengeringan; suhu ruang, pencucian dengan HCl , pH 7. Adapun pemanfaatannya untuk energy, sarana penyimpanan dan aplikasi biotik untuk perikanan atau penyediaan air bersih.

 

Trik Menekan Carbon dengan Eco Enzyme

 https://www.vanguardrenewables.com/_ipx/w_3840,q_75/https%3A%2F%2Fwww.datocms-assets.com%2F97698%2F1712773428-shutterstock_1056730958.jpg%3Ffit%3Dclamp?url=https%3A%2F%2Fwww.datocms-assets.com%2F97698%2F1712773428-shutterstock_1056730958.jpg%3Ffit%3Dclamp&w=3840&q=75

Ternyata dengan melakukan fermentasi sampah organik dapat menghasilkan cairan multi manfaat yang disebut eco enzyme. Sampah dapur atau sisa tanaman tidak hanya bisa diolah menjadi pupuk organik. Namun, juga ditingkatkan manfaatnya menjadi eco enzyme. Menurut Gusniarni, S.E., M.Si., eco enzyme adalah cairan organik hasil fermentasi limbah organik segar (seperti kulit buah dan sayuran), gula merah/molase, dan air. Larutan ini dihasilkan dari proses fermentasi yang berlangsung selama 90–100 hari.

Hebatnya larutan ini bisa diubah menjadi berbagai produk seperti desinfektan, pupuk, bahan pakan dan penjernih air. Menurut Gusniarni, S.E., M.Si. di Indonesia, produksi sampah organik mencapai 31,9 juta ton pada 2024, dan banyak yang belum dikelola dengan baik.

Pengolahan eco enzyme dapat membantu mengurangi jumlah limbah, mengurangi emisi gas rumah kaca, seperti metana (CH₄) yang 23 kali lebih berbahaya dibanding CO₂, serta menjadi solusi ekonomi sirkular yang menguntungkan.